Untuk menu sehari-hari, arsik bisa saja dibuat dari ikan lain, tapi untuk upacara adat, arsik harus dibuat dari ikan mas karena ikan mas mempunyai filosofi khusus bagi orang Batak. Ikan mas dianggap mampu berenang dalam kelompok tanpa harus saling bertubrukan. Diharapkan orang yang memakan ikan mas bisa hidup dalam harmoni dengan orang-orang di sekitarnya.
Masing-masing suku Batak memiliki masakan arsik masing-masing yang khas. Arsik batak Toba berkuah encer, hingga kuahnya dapat dihirup. Arsik Karo kuahnya sangat pekat karena sebagian besar cairannya sudah menguap (reduced). Sedangkan arsi Tapsel (Tapanuli Selatan) berada di antara keduanya – tidak terlalu encer, dan tidak pula terlalu kering. Warna kuahnya pun lebih merah bila dibanding arsik batap yang kekuningan. Ini karena arsik Tapsel menggunakan lebih banyak cabai merah ketimbang andaliman untuk menciptakan rasa pedasnya.
Citarasa masakan ini sangat kompleks karena bumbu yang digunakan juga sangat beragam.Rasa yang paling menonjol adalah rasa asin, asam, dan pedas. Pemakaian andaliman dan kecombrang atau kincung menyumbangkan rasa dan aroma yang khas dan terasa sangat segar dengan rasa asam yang dibangun dari dua macam asam, yaitu jeruk nipis dan asam cikala (patikala). Asam yang disebut terakhir ini adalah buah dari kincung (kecombrang). Rasa asam dan harumnya sangat indah. Sedangkan pedasnya andaliman bisa membuat lidah bergetar. Memang, arsik bukan makanan yang sederhana karena bahannya banyak dan membuatnya pun butuh waktu yang lama, tapi kenikmatannya pantas untuk diacungi jempol.
Kalau tempat tinggal kita berjauhan dengan lapo yang biasa menjual arsik, tidak ada salahnya kita mencoba membuatnya sendiri, pasti jadi favorit keluarga.